29 April 2010

Gambar Seram dari Wamena


AWAL MEI ini saya mendapat beberapa pertanyaan dari beberapa orang soal empat buah gambar yang beredar lewat email, antara lain, dari Port Moresby. Isinya, sebuah serial tentang sekelompok orang Papua, tepatnya orang Pegunungan Tengah, yang ditangkap polisi Indonesia.

Mereka ditangkap. Mereka diminta melepaskan pakaian mereka. Telanjang dada. Dua orang ditembak mati. Gambarnya seram sekali. Perut saya mual melihat gambar keempat. Saya ingatkan Anda untuk tak meneruskan melihat gambar-gambar ini bila tak benar-benar perlu.

Ada dugaan gambar-gambar ini diambil sesudah terjadinya serangkaian kekerasan di Papua saat pemilihan umum 9 April 2009. Ada yang berasumsi ia terjadi pada 29 April saat ratusan tentara Indonesia dari Batalion Infantri 751/Berdiri Sendiri mengamuk di Sentani. Saya agak ragu karena hari itu tak ada satu pun korban jatuh. Ada empat wartawan mengalami kekerasan namun tak ada korban nyawa.



Saya cek gambar-gambar ini diambil pada 28 Januari 2004. Dari beberapa wartawan dan aktivis hak asasi manusia di Jayapura dan Wamena, saya diberitahu bahwa gambar gedung bundar dalam foto kemungkinan besar ada di Wamena. "Itu macam bentuk honai," kata seorang wartawan. Seragam polisi dalam gambar adalah Gegana, sebuah unit penjinak bom dari Brimob. Ada juga wartawan bilang gambar-gambar ini pernah dilihatnya dalam demonstrasi mahasiswa. Lagi-lagi, dia tak tahu siapa nama korban-korban ini?



Saya sudah mencoba hubungi lebih dari 20 sumber di Wamena dan Jayapura. Ada seorang mantan wartawan mau bantu saya meneliti gambar-gambar ini namun juga belum ada hasilnya. Sudah hampir sebulan saya tak tahu apa-apa soal gambar ini. Semua buntu. Tak ada yang tahu siapakah korban? Mengapa mereka ditembak? Siapa yang menembak mereka? Mengapa ditembak dari jarak dekat?



Saya terpaksa memuat gambar-gambar ini dalam blog saya untuk minta bantuan Anda, terutama yang tinggal di Jayapura dan Wamena, apabila ada yang kenal korban? Atau ingat kejadian apa? Tak kalah pentignya, saya ingin tahu siapa yang mengambil gambar-gambar ini? Saya tak bermaksud tidak hormat kepada almarhum maupun keluarganya. Sebaliknya, saya justru ingin mencari kebenaran apa yang terjadi pada korban. Bila ada yang tahu, silahkan hubungi saya. Saya hendak membuat naskah soal keempat gambar ini.

Pegunungan Tengah adalah suatu daerah di jantung Pulau Papua dimana penduduknya berkulit gelap dan rambut sangat keriting. Daerah ini ditempati beberapa etnik. Namun semua berkulit gelap dan rambut sangat keriting. Orang-orang Gunung biasanya dibedakan dengan orang-orang pantai, macam Biak, Serui, Manokwari, Jayapura dan sebagainya, yang kulitnya lebih terang. Mungkin buat orang dari luar Papua, mereka kurang terlihat berbeda. Orang Papua sangat mudah membedakan siapa Gunung, siapa Pantai. Sama dengan orang di Jawa mudah membedakan orang Solo atau Surabaya, mana Sunda, mana Jawa, mana Madura, kebanyakan orang Papua juga mudah mengenal etnik mereka hanya dari melihat bentuk badan, penampilan fisik dan logat bahasa.
source : andreasharsono


15 komentar:

Anonim mengatakan...

Setiap ada korban sipil selalu saja aparat yang dituding melakukan pelanggaran HAM hanya dengan bukti2 foto tanpa menulusuri motif dibalik peristiwa shg aparat serba salah dalam mengambil tindakan meski kpd separatis. Saya 100 % sipil dan keluarga saya tidak ada yg militer, tapi kalau aparat melakukan tindakan untuk menjaga keutuhan NKRI harus didukung...jangan terpengaruh LSM-LSM yang hanya mengemis dana dari luarnegeri untuk merongrong negeri ini... waspadalah...waspadalah.

Anonim mengatakan...

setujuuuuuuu

Anonim mengatakan...

setuju. tp, siapapun, lembaga, polri atai tni, hal spt gbr gak perlu terjadi. kr, perbuatan yg kita lakukan pd org lain suatu saat akan pelaku alami entah dsang pelaku atw keluarganya

sunset88 mengatakan...

Setuju.. Semoga kita semua menyadari dan berusaha tidak terpancing emosi dengan isu-isu yang jelas2 bermuatan politik. Mereka hanya ingin mengadu domba dan mengacaukan bangsa Indonesia, dan setelah itu mengambil keuntungan dengan memamerkan atas nama: seseorang/sekelompok/sebuah bangsa yang telah berjasa sebagai pahlawan dengan mendamaikan kekacauan dan tentu saja dengan dibuatnya beberapa perjanjian yang pastinya ada keuntungan yang diperolehnya dibalik perjanjian tersebut.

Mari kita sama-sama menjaga bangsa tercinta ini dari tangan2 provokator baik dari bangsa sendiri maupun bangsa luar yang hanya berkoar-koar demi kemajuan bangsa Indonesia tapi sikap dan prilakunya tidak mencerminkan kearifan dirinya maupun kelompoknya yang hanya mementingkan sepotong kue kekuasaan.

Anonim mengatakan...

GAYA AUSTRALIA TIADA BEDA, DULU TIM TIM SEKARANG PAPUA

Anonim mengatakan...

Gini aja udah mual, gimana kalo liat video kasus sampit, pingsan kalee. kalo photonya berada di dekat polisi blon tentu polisi berbuat, siapa tau polisi lagi identifikasi. Please, aparat jangan disudutkan melulu, siapa tau yang ditembak ini emank bandit yang harus dimatiin, atau emang lagi ada perang sodara, di papua kan udah biasa

Anonim mengatakan...

kalo saya melihatnya berbeda. Dari foto-foto tersebut seperti telah terjadi suatu peristiwa, mungkin tawuran antar suku, bom meledak, atau yang lainnya.Pada foto pertama terihat seolah sedang melakukan pengamanan setelah kejaian. foto foto korban terlihat dibiarkan begitu saja, bisa jadi untuk olah tkp dan keperluan forensik.Setidaknya sebelum mengetahui fakta sesungguhnya positife thinking adalah yang harus sama sama kita bangun terlebih dahulu.Budaya Indonesia yang harus dihilangkan ini adalah,gosip,yaitu mendapatkan informasi sedikit tapi menyebarkannya lebih dari yang didapat, kemudian informasi akhir yang tersampaikan menjustifikasi sesuatu tang tidak terbukti kebenarannya.

Anonim mengatakan...

Kemungkinan itu separatis OPM.... Polri dan Tni Tidak sebodoh itu melakukan tindakan yang melanggar HAM... sekarang jaman sudah beda... tidak sama dengan dulu... sekarang kalau Polri atau Tni salah sedikit saja sudah di laporkan apalagi kalau melakukan pembunuhan warga sipil.. di foto tsb yang terlihat gmbar anggota polri mungkin dia sedang mengamankan tkp..
kita seharusnya jangan terprovokasi dikit2 nyalahin aparat...

Anonim mengatakan...

bosan sm model ngawur ginian.... klo aku jd aparat ya drpd gue yg dibantai mending gue bantai duluan... klo ga mau gabung NKRI ya minggat aja sn,,,, klo msh mau gabung ya ikuti aturan NKRI...

Anonim mengatakan...

SEKARANG SUDAH JAMANNYA TECHNOLOGY ADU HIGH TECHNOLOGY, BUKANNYA BALIK DIJAMAN DAHULU KALA
KITA SEBAGAI OBJECT UNTUK DIADU BOMBA?
COBA TELITI DENGAN SEKSAMA BARU AMBIL KEPUTUSAN.
POLRI & TNI TETAP SUKSES....

Anonim mengatakan...

semua korban moga tenang dialamnya...

kita g berhak nuduh n ngehkimi org seenaknya...
biar tangan Tuhan yg bertndak...

Anonim mengatakan...

uweeek mau muntah liat fotonya

Anonim mengatakan...

Sepertinya gambar2 di atas adalah peristiwa Wamena Berdara/Tragedi Wamena. Lihat: http://www.facebook.com/topic.php?uid=133875466627788&topic=456
Kalian yang tinggal di Pulau Jawa tahu apa mengenai Papua? Justru kami yang lebih banyak tahu tentang kemunafikan kalian!
Ulah aparat keamanan yang brutal (yang paling jelas pemnunuhan alm. Theis Eluai oleh Kopassus, Paukan Pengawal Negeri!!) menyebabkan kami kaum pendatang di Papua menjadi kaum yang nyaris selalu dicurigai berniat jahat!
Tahu apa kalian tentang Tragedi Wasior (thn 2002) di mana aparat Brimob menghabisi nyawa satu kampung (-+ 300 jiwa) atau Tragedi Merauke?
Saya tidak lagi percaya pada pemerintah apalagi kalian para kaum nasionalis!

Anonim mengatakan...

gtau gmna peristiwanya.klo aq coba brfikir d posisi korban,ga kbayang gmna rasanya direbut hak untuk hidup,pdhal kita ta' bisa menciptakan kehidupan..astagfirullah..asli mual ga bsa bkin argumen nyalahin sypa yg pasti buat pelakunya kamu sombong,merebut hak hidup org,mungkin seseorang dianggap pantas mati,tpi itu hak yg diatas untuk mengambil milikNya,bukan anda

Unknown mengatakan...

jangan lihat dari satu sudut pandang,km tdk tau apa-apa tentang wamena.apa yang penduduk lokal lakukan ke kita lebih parah dari itu.sy cuma mau luruskan sdkt krn sy lahir besar di wamena